Berita di Kalteng Pos, Minggu 4 Mei 2008 benar-benar bikin shock niy ….
Direncanakan tahun pelajaran 2009, entah yang mana, apa 2008/2009 atau 2009/2010, hasil Ujian Nasional akan dijadikan tiket masuk ke Perguruan Tinggi Negeri sehingga mulai tahun ini program nasional negara yaitu Ujian Nasional dan prosedurnya akan disinkronkan dengan penerimaan mahasiswa baru di Perguruan Tinggi Negeri … dikatakan oleh Direktur Tendik Dr. Fasli Djalal saat mengikuti talk show di Warung Daun, Kemang Jakarta dalam tajuk acara Carut Marut Ujian Nasional.
Sepertinya ini benar-benar rencana hebat, namun perlu disayangkan, karena para pemimpin di daerah cuma maunya mendengar siswa yang lulus UN harus mencapai 100% tanpa pernah mau tahu bagaimana meningkatkan mutu kualitas lulusan siswa, dengan memenuhi kesiapan sarana dan prasarana pendidikan, gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium dan juga peningkatan mutu guru (jangan cuma melalui sertifikasi guru doang dong) tambahkan juga kesejahteraannya dan juga pemerataan pendidikan kepada seluruh warga negara Indonesia tercinta ini.
Tahun ini, ITB mengkaji lulusan SMA berdasarkan hasil UN 2008 (semoga berita ini bukan asal nulis di koran, silakan akses ke Kaltengpos.com pada berita minggu )
Sepertinya ide ini adalah bagian dari kampanye tahun 2009 kayaknya . 
masih sangat memprihatinkan, apalagi kasus di SMA Negeri 2 Lubuk Pakam dimana 17 orang guru “tertangkap tangan” melakukan kecurangan dengan mengubah jawaban siswanya, dan saya yakin hal ini hanyalah puncak dari sebuah gunung es besar kecurangan untuk mendukung suksesnya ujian nasional. Kami mendapati beberapa bukti, pelanggaran yang juga sudah dicatat oleh Tim Pemantau (yang kerjanya cuma mencatat) … antara lain :
- Siswa masih bisa membawa ponsel ke dalam ruang ujian (kecuali di SMA Muhammadiyah 1 Palangka Raya)
- Amplop LJUN tidak disegel dan tidak dilem saat berada di dalam ruang ujian (kecuali di SMAN-3 Jekan Raya)
- Masih ada dalih untuk mengoreksi pengisian lembar jawaban siswa oleh Panitia Ujian Sekolah (semua sekolah loh)
- Pengawas tetap diperbolehkan mengaktifkan ponsel selama dalam ruang ujian (walaupun tidak ada kesempatan ber-sms kecuali menerima telepon itupun pake ringtone yang cukup keras dan memekakkan telinga memangnya nggak tau ya bisa di-vibrate-kan)
- Ada struktur / modus operandi yang sama dari tahun ke tahun oleh Panitia Ujian Sekolah untuk berusaha membantu siswanya hingga sampai detik terakhir pelaksanaan ujian nasional 2008
Pertanyaan sanubari sekarang, siapkah kita jika suatu saat anak kita sendiri tidak lulus UN karena ulah idealis guru yang tidak bisa berkolaborasi seperti paparan di atas ? (ini menurut pandangan salah seorang teman saya yang juga menjadi panitia ujian sekolah, guru bahasa, saat anaknya yang sekarang ini mengikuti ujian nasional)
Saya balik pertanyaannya, “Apakah hal ini juga berlaku atas salah seorang teman kita, yang guru matematika, yang anaknya malah tidak lulus UN pada pelajaran yang menjadi mayoritas saat itu yang cuma 3 mapel ? KEMANA hati nurani anda saat itu terjadi, apakah karena anak anda belum ujian ? atau karena dosa teman kita ini yang memojokkan sekolah dalam kecurangan-kecurangan dan kemunafikan mengelola sekolah pada tahun 2002-2006 ?
Beliau hanya bisa terdiam tak bisa melanjutkan pembicaraan
— terus ngeloyor pergi dengan alasan aku mau ngurus sertifikasi ah … sama saya juga sedang ngurus sertifikasi koq. ?

Coretan Pengunjung