Memilih Staf

Dalam organisasi memilih orang yang tepat untuk menduduki sebuah tugas atau jabatan merupakan proses penting yang seringkali menentukan mati hidupnya sebuah organisasi. Proses manajemen dalam pemilihan staf merupakan bagian dario perencanaan atau planning yang tahapannya dimulai dari recruiting kemudian selecting lalu memasuki tahap actuating dan directing.
Memilih seseorang atau beberapa orang menjadi staf dalam kedudukan tertentu tidak hanya mengandalkan naluri atau feeling semata, melainkan perlu bekal informasi mengenai seseorang bahkan jika perlu dipertimbangkan berdasarkan kinerja yang bersangkutan, kemampuan yang bersangkutan, kepribadian orang tersebut hingga pada loyalitas dan komitmennya terhadap tugas.
Kesalahan terbesar dalam memilih staf adalah merekrut dan mengangkat seseorang tanpa latar belakang yang jelas serta terstruktur sistemik sebab hanya berbekal naluriah seorang pimpinan semata serta “faktor kedekatan” atau dengan kata lain faktor ABS atau Yes Man saja.
Staf-staf yang dipilih pun seringkali tidak memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas tertentu selain berbekal sudah senior (yang padahal bukan senioritas saja dituntut sebagai kompetensi umum seorang petugas, melainkan kemampuannya dalam melaksanakan pekerjaan atau tugas).
Sudah saatnya memilih staf dengan berpegang pada hal-hal sebagai berikut :

  1. Bukan faktor kedekatan saja yang menjadi pertimbangan utama, tetapi kemampuan seseorang bekerja dalam bidang yang dipilih.
  2. Kemampuan berkomunikasi dari calon staf juga penting sebagai sarana koordinasi yang memadai dengan unsur pimpinan selain itu sebagai keterampilan personal yang mengindikasikan bahwa seseorang juga mahluk sosial karena bekerja dalam organisasi manajemen bukan pekerjaan one man show melainkan kerja kelompok atau kerja sama tim.
  3. Memilih staf juga bukan berdasarkan faktor gender atau jenis kelamin tetapi juga loyalitasnya terhadap pimpinan.
  4. Komitmen atau kesetiaan terhadap tugas yang diberikan juga patut menjadi pertimbangan apakah seseorang layak atau tidak menjadi staf.
  5. Kemampuan bekerja dalam sebuah tim bersama, bukan kemampuan kerja mandiri seperti pemain musik tunggal. Karena organisasi adalah perkumpulan orang-orang yang seide dan sepikiran.

Mudah-mudahan cara seperti di atas dapat memberikan sedikit pencerahan kepada para pimpinan dalam memilih anak buahnya yang cocok dan tepat untuk membantunya melaksanakan tugas dan menjalankan organisasi.

Memilih Staf

Pemimpin Visioner dalam diri Pesepakbola Indonesia

Seseorang atau beberapa orang atau orang-orang yang memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain baik dengan perkataan dan juga perbuatan serta aktivitas-aktivitasnya dapat dikatakan sebagai pemimpin atau Leader. Aktivitasnya dalam mempengaruhi orang lain dinamakan Kepemimpinan (Leadership).

Melihat pandangan-pandangan para pengamat sepakbola di luar lapangan hijau terhadap ke-11 pemain Indonesia yang harus menelan pil pahit kekalahan terhadap Iran 3-0 beberapa malam yang lalu. Di mana saat perbincangan antara mantan-mantan pemain tim nasional dengan pelatih tim indonesia di sebuah stasiun TV swasta. Ditambah lagi dengan liga Indonesian All Star malam ini bertemu dengan bintang-bintang AC Milan yang sudah pensiun disertai komentar-komentar tentang tim muda Indonesia yang sudah berjuang di Teheran. Saya turut “meramaikan” komentar juga melalui pandangan dari manajemen atau pengelolaan. 

Manajemen adalah usaha dengan atau melalui orang lain untuk mencapai tujuan. Ada yang mengatakan materi pemain timnas saat ini masih kurang joss, ada juga yang mengatakan tim lawan jauh lebih tangguh, ada juga yang mengatakan salah strategi, ada yang mengatakan kesalahan pelatih, ada yang mengatakan tidak adanya kerja sama tim di lapangan hijau, ada yang mengatakan pemainnya bermain sendiri-sendiri dan lain-lain. Biarlah itu kan pendapat orang lain !

Pendapat saya pribadi dari sisi manajemen permainan di lapangan hijau adalah perlu adanya seseorang atau playmaker yang men-stimulasi atau bahasa gaolnya merangsang hidupnya irama permainan di tengah merumput tersebut. Playmakert sebagai seorang leader yang bisa membawa ke-10 orang lainnya bersama-sama menghidupkan irama total football yaitu hidup total sebagai pemain bola yang menggantung hidup dan matinya di pertandingan tersebut. Sebagaimana pesepakbola Korea Selatan yang sudah kali ke-4 dikontrak di Liga Premier, bukankah sebuah barometer untuk orang-orang Asia lainnya, bahwa Indonesia juga mampu setara atau melebihi itu? 

Jika semangat pemain Indonesia bertarung habis-habisan dengan Iran di laga tersebut dan menggantungkan seluruh nasib hidupnya pada kemenangan, sebagaimana tuntutan kepada para pemuda Korea Selatan yang harus mengikuti wajib militer selama 2 tahun sebelum berusia 28 tahun menjadi sebuah “ketakutan” yang mendorong energi murni untuk memenangkan setiap perjuangan dapat terjadi dalam dada setiap anak muda pemain bola tim Indonesia tim Garuda ? Lanjutkan membaca “Pemimpin Visioner dalam diri Pesepakbola Indonesia”

Pemimpin Visioner dalam diri Pesepakbola Indonesia

Seminar Internasional

Tepat 5.30 wib, kami beranjak menuju aula rektorat UnLam Banjarmasin yang “katanya sih” wajib hadir pada seminar internasional bla bla bla …. nah sesampai di tujuan, sudah banyak sekali yang mendaftar di sekretariat dan anehnya nama kami sudah tertulis dan tinggal tanda tangan saja … lho koq mendaftar kalo nama sudah ada (?) … ya maksudnya sih tinggal bayar … segera istri saya bergegas untuk membayar biaya kami ikut seminar karena rupanya teman-teman kuliah saya juga membawa istri-istrinya mengikuti seminar 😆 dan mulailah waiting… loading … ising … sampai bosan …
Pukul 8.30 wib … baru acara dimulai dengan masuknya beberapa orang asing yang dari kulitnya bisa ditebak ada orang tamil, orang gujarat, orang arab, orang pakistan, melayu, sampai bumiputera pun ada … berjalan beriringan sambil menenteng map dan menebarkan senyuman pesona khas orang asing.

Dengan beberapa pelek kalimat dan pembuka dari Pembantu Rektor IV, Prof. Dr. Sutarto yang pernah memberi kuliah tentang statistik inferensial dan Beliau ini adalah dosen kedua yang asyik cara mengajarnya selain Prof. Ibrahim Bafadal dari Universitas Negeri Malang.

Dibuka dengan kalimat tentang pendidikan berkarakter yang dilanjutkan aktualisasinya untuk menumbuhkan budaya berkarakter.
Seminar pun berlanjut …. Dalam keadaan yang mengantuk berat …

Seminar Internasional

Kriteria Kepemimpinan ala Gadjah Mada

Disarikan dari 18 jurus rahasia sukses Pemimpin Besar Nusantara karangan Bhre Tandes)

  1. Pemimpin harus tampil simpatik, berorientasi ke akar rumput, mengutamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi maupun golongannya.
  2. Pemimpin harus mampu bersikap arif dan bijak, menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan religi serta menjadi panutan rakyat (orang yang dipimpinnya).
  3. Pemimpin mampu proaktif, berinisiatif, kreatif, inovatif (memelopori pembaharuan), serta rela mengabdi tanpa pamrih untuk kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya.
  4. Pemimpin memiliki kepribadian yang kuat, berintegritas tinggi, bermoral luhur, obyektif, memiliki wawasan yang jauh ke masa depan (visioner) untuk kemajuan bangsanya.
  5. Pemimpin memiliki memiliki fungsi kontrol, mampu mengawasi bawahan secara efektif, efisien, produktif, berani menindak secara adil yang bersalah tanpa pilih kasih.
  6. Pemimpin harus akomodatif, mampu memadukan perbedaan dengan permusyawaratan, pandai berdiplomasi, mampu menyerap aspirasi dari akar rumput (stakeholder).

Untuk memenuhi kriteria di atas

Kriteria Kepemimpinan ala Gadjah Mada

Gadjah Mada, Sang Leadership Legendaris

Gadjah Mada, Sosok Leadership Kuno
(disarikan dari 18 rahasia sukses pemimpin besar Nusantara karangan Bhre Tandes)

Di era demokrasi sekarang ini, semakin banyak berhamburan janji-janji yang seakan diobral demi penjualan harga diri sehingga akhirnya para konstituen akan memilihnya sebagai wakil dari mereka dan kemudian dilupakan.
Berabad-abad sebelumnya, kondisi serupa juga terjadi di Negara Majapahit.
Puncak kejayaan Majapahit saat dipimpin seorang Mahapatih Agung yang bernama Gadjah Mada.

Seakan berabad-abad lampau, pola-pola manajemen sebenarnya sudah tertanam dan berakar kuat di bumi Nusantara ini. Mahapatih Agung telah menerapkan konsep tersebut dengan mewujudkan Negara Majapahit yang memiliki kekuasaan hingga semenanjung Asia Selatan dan terkenal hingga daratan Tiongkok dan sekitarnya.
Para CEO modern saat ini

Gadjah Mada, Sang Leadership Legendaris