Guruku yang Ideal (catatan pinggiran pribadi)

Setelah saya membaca tulisan Pak Johannes Harry tentang pendidikan di Finlandia … lebih lengkap bisa dibaca dialamat ini.
Saya menjadi terpikir, apakah tuntutan kepada guru sebenarnya berlebih-lebihan, dilebih-lebihkan, atau lumrah karena kemajuan zaman, ekonomi, budaya, biaya ?
Ada kalimatnya yang menarik, mungkin akan saya coba terapkan tapi rasanya 60% – 75% sudah pernah saya praktikan yaitu antara lain : (ini dalam benak saya dan mudah-mudahan cocok dengan kultur di sekolah kami SMAN-2 Pahandut)

  • Tidak menggenjot siswa dengan menambah jam-jam pelajaran tambahan sebagaimana latihan militer yang keras dan disiplin tinggi, mengebom mental siswa dengan berbagai macam tes yang sulit-sulit soalnya melainkan membiarkan kematangan usia mereka yang menentukan minat dan keinginannya untuk menyelesaikan pelajaran …. sepertinya guru ini mengajar pelan tidak instan dan secepat kilat menuntut siswa harus menguasai bahan yang dipelajari. Sebagai perbandingan jam belajar di Finlandia hanya 30 jam seminggu sementara di Korsel yang menempati peringkat ke-2 hasil survey OECD tahun 2003 siswanya menghabiskan waktu 50 jam seminggu.
  • Guru yang mengajar harus benar-benar berkompeten dan guru seperti ini ditunjang dengan dukungan dana dan pelatihan yang terbaik oleh pemerintah/ negara. Profesi guru di Finlandia merupakan profesi yang sangat sangat terhormat menyamai politikus maupun pejabat (kalo di Indonesia justru sebaliknya) meskipun gajinya tidak fantastis … menurut yang saya baca Finlandia termasuk negara terkaya di Eropa. Sejak awal masuk sekolah calon guru, mahasiswa sudah direkrut benar-benar dengan tingkat persaingan yang tinggi yaitu hanya 1 orang yang diterima dari tiap 7 pelamar, sementara peminat masuk sekolah kedokteran atau fakultas hukum malah lebih sedikit. (terbalik dengan kultur di Indonesia)
  • Dengan kualitas mahasiswa yang baik, pendidikan di perguruan tinggi yang baik dan pelatihan guru yang bermutu otomatis menghasilkan guru yang berkualitas lagi handal …. dengan kebebasan otonomi guru mengajar di Finlandia …. tes/ evaluasi hanya untuk meyakinkan siswa tentang kelanjutan dan kualitas pendidikan yang akan diikutinya di tingkat perguruan tinggi (2/3 siswa Finlandia selalu melanjutkan ke perguruan tinggi) bukan sebagai ajang neraka untuk menghambat/ memperlambat jalan masa depan mereka. Guru diberi kebebasan melakukan metode mengajar yang terbaik menurutnya tanpa harus arogan, petantang petenteng menatap siswanya agar memelas minta ampun supaya tidak diberikan tes atau ulangan yang soalnya sulit. Hal ini justru membunuh karakter perkembangan diri siswa yang ingin bebas menjalankan tujuan hidupnya … sejak pra-sekolah siswa sudah diberikan bekal untuk menguji pandangan hidupnya sendiri di masa mendatang. Di Indonesia saat ini, tujuan pengajaran secara tidak kasat mata adalah Mengajarkan siswa/murid supaya lolos ujian nasional/ ulangan umum/ naik kelas bukan untuk memikirkan menjadi apa di masa mendatangnya. (sebuah paradigma yang terlalu bebas dan menyebabkan kecenderungan guru dibuat menjadi apa adanya atau malahan disetir siswanya).
  • Siswa Finlandia sudah diberi kunci tanggung jawab atas dirinya karena tuntutan masa depan dan masyarakat yang sangat tidak toleran akan kegagalan sehingga guru tinggal menuntut tanggung jawab tersebut tanpa harus berkoar-koar berpidato acap kali berada di depan kelas, siswa justru dituntut mandiri untuk mendapatkan bahan ajar yang mereka perlukan (disini juga perlu kesiapan sarana prasarana pendidikan, selain dukung pemerintah, masyarakat dan stakeholder lainnya memandang masalah pendidikan sebagai masalah utama untuk diselesaikan dan dijadikan nomor utama masalah negara selain kesehatan).
  • Siswalah yang menentukan bahan apa yang hendak dipelajarinya, guru memberikan kesabaran, toleransi dalam kompetensi yang tinggi sesuai keterampilan mengajarnya untuk membimbing siswa – suasana sekolah yang fleksibel, entah kata santai apakah cocok diterapkan di iklim tropis (karena Eropa umumnya negara dengan 4 musim, waktu untuk keluar rumah pun menjadi terbatas – berbeda dengan di Indonesia – penduduknya dimanjakan dengan keadaan yang tidak krusial disamping masih dibelenggu kemelaratan-kemiskinan yang menimbulkan kebodohan berkepanjangan)
  • Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan berarti adalah hal yang sukar dibuat di sini (khususnya SMAN-2 Pahandut, entah di tempat lain) …. sepertinya sekali lagi adalah tidak adanya keberanian guru dan memandang resiko atas metodenya untuk memajukan harkat dan martabat hidup peserta didik … belum lagi dukungan stakeholder kurang, cuma mementingkan sarana fisik melulu tanpa melihat operasional benda-sarana-bahan yang menunjang keberhasilan pembelajaran dan pengajaran di kelas atau di luar kelas.
  • Siswa yang remedial bukan berarti siswa itu bodoh, tetapi ada kesempatan untuk memperbaiki kinerja siswa dalam belajar dan ditanggapi guru dengan sabar, kompromistik, komprehensif, fleksibel sekali lagi dan demi tujuan peserta didik …. (kalimat mana yang susah ni) Ada penugasan untuk guru khusus yang menangani program khusus yang perlu dilalui siswa remediasi ini, bukan sembarangan bahkan tidak serampangan seperti melaksanakan tugas asalnya saja. Salah satu contoh program remediasi = datang tepat waktu, membawa buku penunjang yang relevan dan signifikan dengan kebutuhan pelajar (tentunya didukung perpustakaan-pusat buku literatur yang rapi dan terjaga ya hmmm) serta jika mengerjakan PR tidak harus benar asal sudah ada usaha pribadi untuk dikerjakan, siswa remediasi tersebut sudah mendapat apresiasi yang sewajarnya …. apakah disini apresiasinya malah berlebih-lebihan (saya pikir perlu diteliti dan diamati lebih lanjut oleh guru BK – guru yang paling banyak jam mengajarnya tapi kerjanya cuma nongkrong di ruang previligenya yang tenang dan tidak mau diganggu serta memikirkan kompetensinya) …?
  • Para Guru Finlandia sangat menghindari memberikan kritik dan hujatan kepada siswanya, kalau bisa seirit mungkin …. alasannya supaya siswa tidak malu bahkan akibat malu malah menghambat usaha belajarnya …. (jargon saya, di tempat kita ini malah dicari-cari siswa yang tidak mengerjakan tugas supaya bisa dipermalukan, karena “kemaluan” siswa ini terlalu kecil sehingga menjadi tidak punya malu kalau pekerjaannya tidak beres, belum benar, dikerjakan asal-asalan, apalagi mengharapkan orang lain yang mengerjakan tugas mereka sementara siswa ini kerjakan santai-santai (antara lain : JJS, ke mal, supermarket, pesta-pesta, main game, nge-net berjam-jam tanpa peduli kiri kanan, serba urusannya sendiri yang harus diselesaikan duluan . weeeeeewwwww …. tipikal gaya saya dulu waktu masih jadi pelajar …. sekarang sudah insyaf malah ikutan grup guru yang rajin merazia siswa yang malas lalu ikut-ikutan mempermalukan mereka yang otomatis juga mempermalukan diri guru itu sendiri kan ?)
    Indikator keberhasilan siswa adalah perbandingan nilai pekerjaannya terhadap nilai pekerjaan terdahulu … apakah semakin meningkat, ada penurunan, ada pelemahan dan bukan dibandingkan dengan nilai siswa lain…. di Finlandia tidak mengenal peringkat kelas — semua sistem penilaian bersifat personal (sangat pribadi – cukup siswa itu dan gurunya saja yang tau — sepertinya hak privasi siswa diperhitungkan sebagai manusia dewasa juga di negara ini) … jangan tanya kalau di Indonesia ????😉
  • Kesimpulan akhir Johannes Harry : gabungan ketelatenan sang guru, kepemimpinannya, keluwesannya, kesabarannya dan terutama kompetensinya yang mumpuni ditambah motivasi dan tanggung jawab pribadi siswa/ murid yang sudah dicerahkan sejak pra-sekolah membawa warga muda Finlandia bisa lebih cerdas dan sukses dibandingkan warga muda negara atau bangsa lain (jangan bandingkan dengan negara atau tempat kita) … itu semua baru wacana sebagai bahan pembanding.

Syukur jika wacana ini sebagai motivator untuk pemerintah, masyarakat, stakeholder pendidikan, guru dan siswa untuk meningkatkan dan menyadari keberadaan pribadinya sebagai pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, berani menanggung resiko, tepo seliro, harmonis untuk membangun bangsa Indonesia ini lebih baik daripada yang generasi sebelumnya. Segelintir orang pandai tidak cukup, jika tidak bisa mencapai bagian besar masyarakat Indonesia mendapatkan hak dan kewajiban yang layak dan wajar dalam hal pendidikan ini.

Tanggapan Anda kami perlukan untuk menyempurnakan wacana di atas.

3 pemikiran pada “Guruku yang Ideal (catatan pinggiran pribadi)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s