HARI MERDEKA

Jika hari ini tidak ada pandemi, mungkin sudah ramai di jalan jalan berlalu lalang siswa siswa sekolah menengah dengan berbagai semangat terutama semangat dipandang adik adik kelas dalam rangka latihan gerak jalan. Kala itu gerak jalan menjadi salah satu kegagahan seorang siswa laki-laki dipandang siswa perempuan taksirannya.

Kenapa begitu? Karena saya pernah berpikir begituan 😛 tapi apa iya dilihat bahkan ditonton calon cewek gacoan. Ngga akan lah, kecuali cewek cantolanmu itu sesama pentolan organisasi OSIS atau sebangsanya. Jika cuma dari kalangan keluarga ningrat, Borjuis hedonis jangan pernah ada harapan deh seperti gambaran sinetron atau telesinema FTV. Semua itu cuma palsu, bohong, cerita doang.

Faktanya cewek yang mau kamu gaet itu ngga akan bersemangat melihat kamu gerak gerak di tengah jalan snil labgkah tegap atau langkah biasa, menantimu di garis start bahkan finish. Itu tidak pernah ada dan tidak akan terjadi. Tapi itu dulu dulu sekali, bukan zaman pake henpon apalagi berasa kamera DSLR yang harganya makin terjangkau dan masuk YouTube. Terakhir saya abadikan pas Tami masih jadi siswa SMA, kini kakak Tami sudah jadi dokter dan sudah jadi ibu ibu beranak satu. Kebetulan ibunya kenalan saya. Tahun sekitar 2011 2012 lah, itu kejadian 9 tahun lalu.

Sementara yang saya kisahkan dengan gatel di atas saat kejadian tahun 1989 dan 1991 itu aja, sebab tahun 1990 saya mengikuti kegiatan di Istana Negara ketemu Pak Harto dan Bu Tien, mulai dari Taman Mini Hingga Istana Negara dapat hadiah Rp 200 ribu dari pemimpin negara saat itu.

Kalo ingat lagi masa masa 17 agustusan sampai tahun 2019 yah nonton dan menjagain yang gerak jalan aja dan sampai hari ini saya tetap belum tau dimana nilai lombanya.

Jika di kampung kampung, masyarakat menyambut HUT Republik Indonesia dengan berbagai lomba yang cenderung kayak permainan anak anak dan ada juga rasanya seperti mengingat diri pendiri pendiri Bangsa Indonesia masih dijajah Belanda. Seperti Panjat Pinang, jadi ceritanya Bos Mener Belanda itu senang meliat kacung-kacungnya manjat pinang ya g dilumuri pelicin naik turun jatuh hingga berebutan dan berkelahi untuk memperebutkan barang barang yang digantung mulai dari kantong teh melati, beras, baju dalam hingga hadiah yang mevvah pada zaman penjajahan Belanda dulu.

Maka jika mau milenial dan semangat kita tidak mau dijajah lagi, mestinya lomba perang perangan antar tim atau antar kampung sama seperti Hunger Games, cuma ngga sampai bunuh-bunuhan lah

Cukup sampai mewariskan bahwa Bela Negara itu semangat yang mendarah daging kepada anak cucu putra putri bangsa. Jika Hunger Games dipilih berdasar berdasar distrik, mungkin di Indonesia bisa memilih dari berbagai kelurahan atau kecamatan dicari tim tempur yang bukan Kombatan untuk mewakili daerahnya (wilayahnya) untuk diterjunkan memperebutkan suatu trophy atau kebebasan atau dana obligasi, dana hibah kepada wilayahnya untuk biaya disenfektan kah, biaya kebersihan kampung kah, biaya keamanan lingkungan buat peronda peronda keliling untuk menjaga keamanan dari Maling Maling preman dan pengacau lingkungan yang hobinya kebut kebutan mencari sensasi yang kemudian berubah jadi geng motor kemudia. Meningkat kompetisinya menjadi begal maling rampok dan klitih di daerah Yogyakarta sana.

Dengan Hunger Games ala Republik Indonesia dari 34 provinsi dan ada lebih dari total 8000 kampung desa dan Kelurahan serta kecamatan se-Indonesia Raya bisa dijadikan masyarakat terlatih semesta bukan hanya berharap dari Komando Cadangan Komcad secara sukarela tetapi benar benar dipupuk sejak dari perkampungan mereka. Bahkan Mencari rekrut Anggota Polri dan Anggota TMi bisa semakin lebih mudah dideteksi dan didapat dan perencanaan pembentukan pasukan pasukan menjadi lebih terencana dan terukur. Semua warga terutama yang merasa warga negara Indonesia pasti akan bangga dengan semangat patriotisme juga tidak ada lagi tekad desintegrasi sebab Negara menjadi sadar bahwa dengan Hunger Games memgingatkan seluruh warga negara akan perjuangan yang dilakukan Bapak Bapak Bangsa ini termasuk kakek nenek buyut dan kakek nenek saya saat berjuang menghadapi penjajah Belanda dan Jepang, juga Inggris kepada masyarakat yang ada di Surabaya serta kehadiran Portugis untuk rakyat yang ada di Maluku dan Nusa Tenggara Timur.

Lomba Hunger Games Indonesia dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan tidak boleh diikuti warga yang anggota TNI dan anggota POLRI aktif tetapi yang sudah purnawirawan atau yang pensiun dan tidak berdinas aktif lagi bisa menjadi pelatih atau coach serta official tim desa tim kelurahan untuk diseleksi bersama tim desa dan tim kelurahan lainnya. Senjatanya apa, gunakan lah airsoft gun atau paint ball yang tidak mematikan dan menempatkan lapangan pelatihan tempur di bukit gunung atau pantai sebagai tempat lombanya.

Lomba dibagi menjadi beberapa tahap dengan 5 ronde perebutan bendera wilayah pertahanan. Tergantung tim mana yang duluan merebut bendera dinyatakan sebagai pemenang. Agar seimbang Medan Medan lomba ini harus dipasang jebakan jebakan yang tidak mematikan dan bisa dibuat jebakan alam seperti tebing atau jurang atau perbukitan dan pegunungan atau daerah perkotaan bisa menggunakan gedung yang diabaikan sebagai tempat latihan sesuai tema kewilayahan.

Bagaimana menangkal terorisme dari permainan ala Hunger Games ini? Yah tentu saja setiap pemain diseleksi dulu TWK tingkat wawasan kebangsaannya sama seperti tes integritas bukan Hanya main bedil bedilan atau tembak-tembakan doang.

Setiap peserta harus diuji wawasan kebangsaannya karena ini menyangkut harkat dan martabat diri bangs juga sehingga pemenang hunger games yang memungkinkan bisa dipilih menjadi anggota Komcad (komponen cadangan) secara otomatis atau dipersilakan berkarir di militer atau kepolisian dan satpol PP. Dijamin susah bermain kong-kongan biar bisa ikut tim Hunger Games, karena semua warga mesti tau hasil akhir dari pertandingan ini dan dipilih berdasar kompetensi juga, lolos seleksi fisik dan lain-lain.

Kemudian setiap wilayah diadu sampai tingkat provinsi, maka pemenang 1,2, dan 3 dari perlombaan itu bisa dijadikan komponen strategis pertahanan wilayah.

Mudah-mudahan tidak ada lagi game-game menyambut peringatan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang masih mengingatkan kita sebagai bahan tertawaan para penjajah, apalagi negara-negara adidaya yang melihat Indonesia sebagai negara pasaran saja.

Pendaftaran Komponen Cadangan (Komcad) Masih Dibuka, Berikut Tahapan dan  Sederet Keuntungannya - Surya
https://surabaya.tribunnews.com/2021/06/04/pendaftaran-komponen-cadangan-komcad-masih-dibuka-berikut-tahapan-dan-sederet-keuntungannya

https://surabaya.tribunnews.com/2021/06/04/pendaftaran-komponen-cadangan-komcad-masih-dibuka-berikut-tahapan-dan-sederet-keuntungannya

Penulis: fisikarudy

Mengajar Fisika di SMAN-2 Palangka Raya, Kalimantan Tengah, suka foto, suka mengarang, suka musik, gitar dan vokal adalah instrumen yang paling saya tekuni,