Kerumunan Setahun Sekali

Ya, setahun sekali kita merayakannya
Ya, setahun sekali kita berpesta pora
Menghabiskan berpuluh-puluh juta rupiah
yang dikumpulkan sia-sia
untuk apa, untuk alasan menyambut kelahiran?
Kasihan !
Berulang-ulang kali kata litani di atas, diucapkan seperti sandiwara dalam gedung oleh orang-orang bersama-sama, tetapi hedonisme dan materialistis dunia tetap tidak terbendung dengan merayakan habis-habisan hingga jor-joran padahal untuk apa?
hanya demi perut kampung tengah, berpesta-pesta ditambah minuman-minuman beralkohol tanda sukaria bukan sukacita

Sama seperti kunjungan kepada penjual daging sapi, ibu-ibu rela antri hingga keringat menetesi dahi sejak pagi, berebut daging rawon, daging paha hingga tulang iga yang akan dibuat pentol, sup, hingga karih dan rendang istimewa
dicampur dengan ketupat dan lontong lonjong perkasa, untuk mengenyangkan hasrat nafsu makan yang kemudian memicu tekanan darah tinggi lalu stroke akhirnya gagal jantung

Berkilo-kilo daging dan tulang dibeli, memang menguntungkan pedagang dan sangat membantu ekonomi kerakyatan karena tidak dilakukan di pasar-pasar berdinding beton beralas ubin licin seperti di mal atau pasar modern, Itu semua terjadi di pojokan pasar tradisional yang hingar-bingar dua kali setahun karena dua perayaan agama mayoritas

Keinginan mencari kepuasan pada daerah kampung tengah tempat manusia merasa kenyang bisa berakhir pada Unit Gawat Darurat atau Unit Penanganan Intensif karena keserakahan menyebabkan kesakitan

Pembeli minta dihormati, pedagang daging sapi kewalahan bahkan hingga harus mengatakan
“itu lho bu yang membeli tulangan yang banyak ini. harganya pun sekilonya 125 rebu!”
“Saya tidak tau dan saya tidak mau tau, siapa yang beli, semampu apa dia mau beli, Bukan urusan saya!”

Kerumunan setahun sekali, sekali-sekali berkerumun untuk menikmati hari-hari akhir tahun. Akhir-akhir tahun berkerumun membeli daging sapi, bukan kambing karena jarang ada juru potong kambing dan menjual daging berbau amis tersebut

Kerumunan Setahun Sekali