Antara Perang dan Silat

Panah-panah beterbangan berseliweran kiri-kanan. Terangkat tinggi kemudian menghujam bagai hujan. Tidak perlu pemanah jitu dan pembidik tepat untuk menghasilkan hujan badai serangan panah pada era pertempuran abad menengah, di mana tidak dikenal kanon atau meriam.
Paling berat kendaraan infantri adalah penggedor benteng dan tangga yang didorong bergotong-royong beramai-ramai oleh para pasukan tamtama yang berani mati dan rela menyia-nyiakan nyawanya demi kebesaran nama kesatuan penyerbu saat itu.

Fenomena perang era Dinasti Tang, dilanjutkan Medieval Era dalam permainan elektronika EA terus menggelorakan kebanggaan bertempur secara kesatria yang cenderung kebodoh-bodohan atau memang strategi waktu itu yang masih sangat primitif dan mengandalkan jumlah prajurit.

Di antara pasukan berseragam, militer tentunya. Juga ada pendekar-pendekar silat yang bisa berjumpalitan dan melayang-layang layak burung sambil menyambar-nyambar menebarkan maut dan kematian melalui senjata yang digenggamnya.

Tergambar jelas cerita-cerita peperangan seperti ini pada cerita silat bersambung pada naga-jawa.blogspot.com – karangan Seno Aji Gumira yang ditulis bersambung di Jawa Pos.

Rugi tidak mengikuti dari awal, dan sekarang episode Panah Wangi memenuhi relung hati Pendekar Tanpa Nama. Pendekar Jawa yang tidak punya latar belakang jelas, berilmu tinggi dengan dua jurus ternama Ilmu Bayangan Cermin dan Jurus tanpa Bentuk yang menghantarkannya melanglangbuana ke mancanegara hingga negeri Cina.

Antara Perang dan Silat