Kualitas Liburan

Bagi kalangan dunia pendidikan istilah liburan memang suatu kegiatan yang paling dinantikan dan paling banyak terjadi selama musim sekolah. Bayangkan saja libur jeda antara kenaikan kelas serta penerimaan peserta didik baru bisa memakan waktu tiga minggu, libur akhir tahun bisa juga memakan waktu 3-4 minggu. Liburan perayaan hari besar dan agama dihitung-hitung mencapai 4 minggu. Sudah barang tentu dengan waktu yang demikian banyak kegiatan liburan harus diisi dengan hal-hal yang berkualitas.

Kualitas tersebut dimulai dengan kualitas tidur, istirahat hingga bangun yang berkualitas, menjaga agar mata tidak mengantuk secara berkualitas.

Kata kualitas itu sendiri bermakna tentang tingkat baik atau buruknya sesuatu atau bisa juga dikatakan kadar baik atau kadar buruk sesuatu, bisa juga bermakna derajat atau taraf yang diperlukan atau sudah ditetapkan.

Makna bebas dari kualitas adalah adanya suatu tingkatan pada tindakan atau benda atau barang atau produk yang merujuk pada suatu taraf kebaikan atau bahkan taraf kejelekan jika dibandingkan dengan tindakan, barang atau produk yang sangat bagus bentuk dan daya pakainya.

Yang dimaksud dengan kualitas liburan mengacu pada pendapat tersebut adalah suatu tindakan yang bertaraf baik atau bahkan bertaraf jelek selama menjalankan aktivitas selama berlibur (tidak bekerja, bebas tugas). Taraf baik atau taraf jeleknya bisa saja bermacam-macam yang dilakukan.

Kualitas liburan atau kualitas berlibur perlu sangat dipikirkan pertama-tama adalah biayanya. Biaya yang memadai untuk menjalankan liburan dengan enak dan nyaman tentunya adalah hasil dari upaya bekerja keras. Jika hal itu disebut taraf baik, maka penyediaan atau penyiapan biaya liburan tidak sampai mengganggu keuangan keluarga secara keseluruhan sehingga membuat neraca belanja rumah tangga menjadi berantakan. Misal : dianggarkan untuk membeli ranjang baru tetapi ternyata digunakan untuk biaya berlibur ke hotel, ya tentu saja barang yang semestinya bisa dipergunakan untuk kebutuhan rumah tangga menjadi terabaikan dengan “hanya” membayar sewa kamar hotel yang itupun tidak dapat kita miliki setiap hari.

Kualitas liburan yang bertaraf baik menurut kantong pas-pasan dan tidak mengganggu budget rumah tangga adalah berlibur bebas biaya atau mengadakan liburan bahkan tanpa biaya sama sekali. Jika hal itu tidak memungkinkan, please untuk mempersiapkan baik-baik biaya bertransportasi, biaya kendaraan, biaya akomodasi tanpa harus membebankan anggaran rumah tangga jauh-jauh hari sebelum liburan dilaksanakan. Menurut bahasa manajemen, liburan atau holiday harus direncanakan terlebih dahulu.

Segala sesuatu yang berakhir baik harus direncanakan atau dipertimbangkan dengan matang-matang. Liburan yang berkualitas juga diisi dengan aktivitas yang berkualitas, misalnya selama liburan awal puasa dan menjelang akhir puasa hingga hari raya yang dilanjutkan dengan cuti bersama harus diisi dengan aktivitas keagamaan yang semakin mempertebal keyakinan dan perilaku beriman kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Tentu saja semakin mempertebal keyakinan ini pun tercermin pada perilaku menerima keadaan dengan pasrah dan tawakal tanpa harus bersilat lidah atau berargumentasi dengan alasan-alasan apapun. Sebagai seorang yang beriman berarti menerima apapun kehendak yang terjadi (baik diperkirakan atau tidak diduga) sebagai sebuah hikmat atau suatu kejadian yang harus bisa diterima karena kita manusia hanya bisa menerima dan pasrah semata.

Kualitas liburan yang berikutnya adalah mencoba selalu untuk bangun pagi lebih pagi, kesegaran pagi merupakan harta karun terbesar yang diberikan Tuhan bagi kesehatan dan kinerja tubuh manusia. Bayangkan saja Ayam berkokok tidak pernah kesiangan kecuali ayam itu begadang dan kongkow-kongkow di depan warung. Masa-kan kita kalah dengan ayam yang menjadi santapan dan hidangan di kala kita lapar bahkan menyambut perayaan-perayaan yang kita lakukan?

Kualitas liburan yang sederhana yang saya lakukan hari ini, karena saya terlanjur berkongkow dengan ayam dan mencari anak anjing yang hilang selama satu hari hingga larut malam maka saya terlambat tidur dan bangunnya menjadi kesiangan. Saya bangun pada pukul 07.00 wib yang mana sudah lama saya “terpaksa” menghirup udara yang sudah dihirup duluan oleh ayam-ayam yang lain. Agar mata saya ini bisa terbuka segar dan tidak terpaksa mengatup-atup maka saya mengupas bawang merah yang mengandung zat sulfida organik dan asam protatekuat beserta esensi-esensi herbal lainnya dengan aroma khas yang merangsang air mata untuk mengalir dan membersihkan kotoran-kotoran mata yang bertengger di pelupuk mata dan membuat “kunci” mata untuk tidak terbuka dan dipakai melihat.

Dengan kualitas liburan memaksa mata “dibangunkan” melalui ritual mengupas bawang merah sudah barang tentu membuat tubuh juga segar sebab menerima ramuan esensial herbal yang sederhana untuk berinisiasi melakukan kegiatan yang “lebih berkualitas” di kala liburan.

(bersambung)

Kualitas Liburan