Budaya Bermutu

Banyak sudah tulisan-tulisan di blog maupun media lain yang tersebar di internet membahas tentang budaya mutu, terutama yang berkaitan dengan dunia pendidikan.

Tulisan saya mengenai budaya bermutu bukan berarti menambah runyam atau carut-marut tulisan yang ala kadarnya saja tetapi mudah-mudahan membawa opini segar dan memperjelas sejelas-jelas dalam kacamata orang awam yang baru saja menyelesaikan bacaan mengenai budaya pendidikan bermutu.

Hasil terawangan dan pemikiran saya berdasarkan buku berjudul Improving Quality in Education karangan Charles Hoy, Colin Bayner_Jardine, Margareth Wood yang diterbitkan pertama kali tahun 1957 dan saya mendapatkan kopiannya yang dikeluarkan tahun 2000.

Konsep-konsep dalam yang ditawarkan dalam buku ini, ternyata juga sudah disadur oleh Kementerian Pendidikan Nasional ke dalam buku-buku seri manajemen ringkas untuk pengelolaan sekolah-sekolah berbagai jenjang di seluruh bagian Indonesia. Buku-buku serial manajemen sekolah tersebut mulai diterbitkan dari tahun 1997 hingga tahun 2009 yang terus-menerus diperbaharui menggunakan teori-teori yang sebenarnya sudah lama menjadi pemikiran kaum bangsa-bangsa di belahan dunia barat yang kemajuan pendidikannya saja sudah demikian pesat dan maju.

Budaya bermutu sebagaimana dimaksudkan dalam buku tersebut berisi berbagai tipe kualitas dalam bekerja, memeriksa kualitas, peningkatan kualitas berkelanjutan, mengembangkan kualitas pendidikan, mengesahkan mutu pendidikan, mengembangkan kualitas melalui kerjasama antar anggota organisasi pendidikan, menggunakan mode pemecahan masalah (gugus tugas) dalam meningkatkan dan menjaga kualitas lembaga pendidikan, ditutup dengan pemikiran mencari arti “suci” dari Kualitas demi pengembangan organisasi pendidikan.

Secara umum pendapat saya mengenai kualitas adalah taraf yang menyatakan keadaan baik atau sesuai standar. Yang berarti suatu kualitas atau mutu dibandingkan setara dengan suatu ukuran standar baik. Misal: sebuah meja yang berkualitas dari demikian banyak produksi atau produk yang homogen harus identik dengan meja produksi pertama yang tahan, kuat, bagus, terbuat dari kayu yang juga baik dan kuat.

Budaya adalah segala sesuatu hal yang berkaitan dengan akal dan budi manusia. Suatu cara hidup yang berkembang oleh manusia dan terus-menerus diwariskan dari generasi ke generasi.

Yang dipandang berkualitas adalah budayanya. Membudayakan kualitas. Kualitas menjadi roh dari pembangunan, peningkatan, dan pengembangan sebuah pelayanan atau sebuah pekerjaan terutama sekali di dunia pendidikan. Lembaga yang bersentuhan langsung dengan tindakan atau aktivitas yang nantinya menjadi budaya adalah sekolah.

Sekolah yang berkualitas berarti sekolah yang telah memiliki standar yang sudah ditentukan apakah secara nasional atau internasional atau baru mencapai standar rintisan (padahal di dalam undang-undang Sisdiknas tidak ada istilah Rintisan) 😀 Sekolah dimaksud tentunya memiliki baku mutu atau ukuran yang setara dengan ukuran yang dipergunakan secara nasional bahkan internasional.

Yang menjadi persoalan adalah bagaimana mengukurnya ? Ukuran tersebut sudah jelas dimaksudkan dalam buku serial manajemen pengelolaan sekolah hingga diperkuat oleh Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (permendiknas) bahkan diperkuat lagi dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional ditafsirkan lagi menjadi Standar Pengelolaan hingga Standar Sarana Prasarana dan macam-macam dalam Delapan Standar Pendidikan Nasional menurut Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 dan banyak lagi peraturan-peraturan pengelolaan pendidikan. Nah, jika ukurannya sudah jelas dimana mismatch-nya? atau missing link-nya?

Belum tercapainya keberhasilan budaya mutu karena ada mata rantai yang terputus dalam interpretasi dan mewujudkan keinginan “suci” para pemikir pendidikan atau pengelola pendidikan dari Pusat hingga daerah. Masih sedikit penafsir-penafsir ukuran mutu di sekolah dengan tuntunan yang belum maksimal dari fasilitator-fasilitator sekolah yang setiap tahun dikirim ke Pusat untuk ditatar, dibina, dididik dalam medan Trainer of Trainer (ToT) belum mampu meningkatkan pemerataan mutu pengelolaan pendidikan ke seluruh Indonesia.

Hingga langkah-langkah percepatan yang diambil sekolah pun, mulai dengan menggandeng konsultan-konsultan manajemen. Sementara di daerah kami istilah konsultan ini masih dianggap konsultan konstruksi (bangunan) karena konsultan manajemen biasanya hanya bekerja di proyek-proyek infrastruktur. Konsultan manajemen pendidikan masih tersamar dengan fasilitator yang diambil dari akademisi yang juga makin banyak pekerjaannya sebagai lektor-lektor yang mempersiapkan tenaga kependidikan di perguruan tinggi.

Konsultan manajemen pendidikan yang ditempatkan di sekolah bisa saja dari guru-guru yang jamnya cukup kurang atau pekerjaannya di sekolah masih bisa untuk memikirkan kemajuan sekolah di luar jam mengajarnya. Semestinya pemikiran sederhana untuk mencapai budaya mutu dapat dimulai dari titik tersebut.

Sekolah sebagai yang punya tempat tinggal, secara sederhana pada prinsipnya menginginkan perubahan, perkembangan, bahkan peningkatan atas layanan yang diberikannya. Sudah sepantasnya pula memikirkan jalan-jalan yang hendak ditempuh demi mencapai tujuan tersebut. Jika jalan yang ditempuh mahal walaupun waktunya singkat, semestinya dengan elok berpikir untuk menggunakan langkah-langkah kecil demi mencapai langkah-langkah besar. Budaya mutu di sekolah tidak dapat dikerjakan secara sekaligus tapi dapat dikerjakan secara serentak dan selalu dilakukan evaluasi bersama.

Mengembangkan budaya mutu tidak dapat dikerjakan seorang diri oleh kepala sekolah atau oleh seorang guru sakti atau bahkan oleh seorang demi seorang di sekolah, tetapi aktivitas mulia ini adalah kerjasama semua pihak semua tangan dipikirkan oleh semua kepala setiap orang warga sekolah yang bersangkutan. Agar memiliki sama pemikiran dan sama tujuan, tentu saja dimulai denganPENANAMAN VISI DAN MISI SEKOLAH kepada setiap warga sekolah sehingga di dalam dada dan pemikiran warga-warga sekolah adalah CITA-CITA dan VISI SEKOLAH sebagai landasan kerja bagi mereka dalam berkegiatan di sekolah.

Budaya Mutu dimulai dari dalam diri masing-masing setiap warga sekolah dengan penanaman doktrin Mutu yang tertulis melalui Visi Misi Sekolah. Jika dioktrin mutu sebagai landasan gerak manajemen sudah terlihat, tidak hanya sebagai jargon atau tempelan penambah aksesoris kelengkapan halaman sekolah maka dengan sendirinya kegiatan-kegiatan yang dilakukan di sekolah akan mengarah sedikit demi sedikit pada kualitas sebagaimana yang diharap dalam Delapan Standar Nasional Pendidikan tersebut.

Doktrin mutu tertanam memerlukan kerja sama tim yang kuat, mantap, solid (padat karya), sinergis, bertanggung jawab dan memberikan kebebasan kreatif penuh inovasi kepada semua anggota tim untuk mencapai tujuan ukuran mutu yang sudah ditanamkan dalam Visi dan Misi Sekolah. Kesalahan atau kealpaan anggota tim dalam mengerjakan hal-hal yang kreatif dan inovatif bisa diperkecil dengan melakukan evaluasi reguler dan menyeluruh termasuk kepada pimpinan juga mestinya bersedia di-evaluasi untuk perbaikan bahkan dengan review pengembangan peningkatan mutu.

Di Kalimantan Tengah ini khususnya bahkan juga di seluruh belahan Indonesia, tengah digencarkan kampanye opini BPK dengan sebutan Wajar Tanpa Pengecualian. Artinya transparansi pelaksanaan kegiatan manajerial dan pengalokasian dana (keuangan) serta akuntabilitas pemerintahan benar-benar terukur dan bisa diamati publik yang dinilai melalui auditor negara (BPK) dengan sebutan dilaksanakan dengan Wajar dan berlaku umum dengan indikasi BAIK (bermutu).

Wajar Tanpa Pengecualian adalah opini pihak penilai (evaluator) yang juga dapat diterapkan di sekolah sebagai reward atau hasil kinerja sekolah di setiap akhir tahun. Yang selama ini hanya dinilai melalui tingkat kelulusan saja. Dan itu menimbulkan berbagai indikasi yang belum elok berkembang di masyarakat. Perlu juga dinilai WTP tersebut melalui prestasi-prestasi yang diraihkan para siswa-siswa, kejuaraan yang diraih para siswa dan guru, hasil-hasil kemajuan yang dicapai dan ditunjukkan oleh sekolah, perilaku karakter yang dihasilkan dari sekolah yang terlihat pada perilaku siswa dan guru dan warga sekolah lainnya (jangan hanya menjadi porsi banyak untuk siswa dalam pendidikan karakter, guru dan staf tenaga kependidikan lainnya pun harus dididik berkarakter!)

Maka budaya mutu itu bukan tanggung jawab orang per orang atau sebutannya One Man Show saja melainkan kerja sama semua pihak di sekolah untuk menjadikan hasil hikmat, akal, budi manusia menjadi pandangan dan pedoman hidup yang terus-menerus diwariskan dan berkembang dari generasi ke generasi. Arti penting dan suci dari kualitas adalah perubahan yang tiada henti dan selalu menjadi yang terdepan dengan satu hati !

Budaya Bermutu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s