Dolan Malam

Malam ini terasa sangat membosankan sehingga saya mengajak anak pertama saya untuk berjalan-jalan. Jika biasanya kami menggunakan kendaraan walaupun menuju tempat yang tidak terlalu jauh jaraknya, namun kali ini saya mengajak berjalan kaki untuk menyusuri sepanjang jalan protokol di depan tempat tinggal kami.

Jalan di bilangan terpencil ini dulunya sangat sepi sehingga sempat dinamakan tempat buang anak. Konon, karena saking sepinya hantu aja bisa nongol telanjang tanpa sehelai benang pun nongkrong kongkow layaknya preman. Di masa sekarang kejadian seperti itu sudah sulit bahkan jauh untuk ditemui, kecuali setelah menyusuri daerah ini hingga ke pedalaman.

Sepanjang jalan protokol dengan panjang lebih kurang 12 kilometer ini saat ini sudah ditumbuhi berbagai usaha rakyat kecil dan menengah, mulai dari jual buah hingga jual badan. Mulai dari dagang kelontongan hingga berdagang ketololan. Usaha perkayuan hingga usaha main kayu. Ada semua di jalan ini.
Tak pelak lagi, jalan di sekitar saya tinggal sekarang berjuluk sepanjang jalan perjuangan. Karena untuk mendapatkan tanah saja sepanjang jalan tersebut harus sampai mengeluarkan tetes darah yang tidak sedikit selain memang harus sambil berkeringat dan bermandikan peluh hingga mencret-mencret.

Semula dolanan malam yang akan kami lakukan menuju warung yang biasa memanggang ayam dalam tusuk alias sate ayam. Tetapi karena yang memesan satenya antri dan antriannya sepanjang 10 meter, niat untuk berkesan di warung itu menjadi sirna dan terundur untuk makan sate ayam ala madura yang selalu tersedia di perempatan jalan. Tapi niat kedua ini pun batal, sebab sepanjang dua bangku deretan manusia yang juga berkeinginan sama untuk menyantap sate madura sudah banyak menunggu.
Akhirnya kami putuskan untuk menyantap nasi gosong yang dimasak sambil bermain perkusi di sekitar halte angkot. Hanya menunggu sekitar 8 menit, dua piring nasi gosong berwarna kemerahan dengan potongan timun dan beberapa lembar kerupuk daging lembu diserahkan ke tangan kami masing-masing.
Yah tentu saja dalam hitungan sepuluh suap, semua isi nasi gosong habis lahap tandas tuntas masuk ke dalam kerongkongan dan entah apa lagi diproses dalam lambung makan. Yang pasti paket nasi tersebut yang dihargai 8000 per piring sudah menjadi bubur lengket warna ijo dalam lambung dan nanti pagi siap diluncurkan dalam ritual penerjunan fajar.
Sepulang dari gerobak perkusi nasi gosong, kami kembali menyusuri jalan berpasir dan kadang bertai ayam ini, pulang ke asrama. Saya tetap terusik dengan bau menyengat dari asap bakaran ayam hingga memutuskan untuk menengok asal muasal asap dan jika tidak banyak yang membeli saya hendak pula membawa barang seikat tusuk sate beserta lontongnya.
Eh ternyata keinginan tersebut tidak bertepuk sebelah tangan, karena saya melihat tidak ada lagi antrian sehingga serta-merta saya bisa memesan 10 tangkai daging ayam yang sudah diolah dan dibekukan untuk dipanggang nyam nyam nyam. Maksud hati saya bayar duluan untuk mendapat kembalian yang hendak dipergunakan memangkas rambut eh ternyata kami harus menunggu lagi sekitar 15 menit hingga kembalian itu benar-benar dikembalikan. Karena yang empunya warung harus menugaskan kurirnya untuk menukarkan mata uang terkecil sebab tidak ada uang pas. Yah, akhirnya terpaksa harus menunggu dan menunggu.

Dolan malam dilanjutkan ke pemangkas rambut terdekat lebih kurang 200 meter dari rumah saya, dan dengan sigap saya duduk di atas bangku yang disediakan. Hanya berbekal cermin yang dipasang depan belakang agak ke atas sedikit, kemudian meja besar dengan bedak, tiga macam gunting dan dua macam sisir serta sebuah pemotong elektrik, silet sepotong maka siaplah sang tukang cukur beraksi mengeluarkan keahliannya.
Pada saat potongan tengah dilangsungkan sekitar 5 menit berjalan, tiba-tiba listrik di tokonya padam dan saya harus menunggu dengan rambut terpotong sebelah. Kemudian sempat menyala sebentar dan baru beberapa elusan gunting elektrik, aliran listrik ke tokonya kembali padam lagi kali ini lebih lama, namun untung rambut saya tidak lengket seperti iklan BNI tentang lambat membayar tagihan PLN.
Karena sering terpotong akhirnya, sang tukang gunting memutuskan hanya menggunakan gunting saja sambil mengumpat dan memastikan kepada saya bahwa padamnya listrik tersebut bukan salah gunting elektriknya … dengan terus membentuk gaya potongan rambut yang saya kehendaki.
Proses pemotongan rambut selesai dalam waktu lebih kurang 20 menit dan biaya yang saya bayar sama seperti biaya sepiring nasi gosong yaitu $1. (silakan konversikan nilainya ke dalam rupiah) 😀
Nikmatnya jika tidak punya uang banyak !

Dolan Malam

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s