Seminar Internasional

Tepat 5.30 wib, kami beranjak menuju aula rektorat UnLam Banjarmasin yang “katanya sih” wajib hadir pada seminar internasional bla bla bla …. nah sesampai di tujuan, sudah banyak sekali yang mendaftar di sekretariat dan anehnya nama kami sudah tertulis dan tinggal tanda tangan saja … lho koq mendaftar kalo nama sudah ada (?) … ya maksudnya sih tinggal bayar … segera istri saya bergegas untuk membayar biaya kami ikut seminar karena rupanya teman-teman kuliah saya juga membawa istri-istrinya mengikuti seminar😆 dan mulailah waiting… loading … ising … sampai bosan …
Pukul 8.30 wib … baru acara dimulai dengan masuknya beberapa orang asing yang dari kulitnya bisa ditebak ada orang tamil, orang gujarat, orang arab, orang pakistan, melayu, sampai bumiputera pun ada … berjalan beriringan sambil menenteng map dan menebarkan senyuman pesona khas orang asing.

Dengan beberapa pelek kalimat dan pembuka dari Pembantu Rektor IV, Prof. Dr. Sutarto yang pernah memberi kuliah tentang statistik inferensial dan Beliau ini adalah dosen kedua yang asyik cara mengajarnya selain Prof. Ibrahim Bafadal dari Universitas Negeri Malang.

Dibuka dengan kalimat tentang pendidikan berkarakter yang dilanjutkan aktualisasinya untuk menumbuhkan budaya berkarakter.
Seminar pun berlanjut ….

Seminar dimulai oleh Prof. Ahmad Suriansyah, selaku ketua program studi, yang menampilkan model institusi yang bermutu dan berkualitas sebagai arah menuju budaya kerja berkarakter, yang kemudian dilanjutkan oleh prof. Arsay yang bentuknya seperti orang tamil, tinggi besar item dan bicaranya tentu saja ada logat melayu-nya dengan topik Penggunaan Statistik dalam mengubah Budaya Bermutu (SPC singkatannya, koq kayak merk monitor komputer yang sudah lama rusak ?) … selama sesi ini terus terang mata saya tidak bisa berkompromi dan berkali-kali terkatup rapat (untung tidak untuk selama-lamanya😆 ) …

sesi ketiga disampaikan oleh prof. Yakoob Daud, yang rambutnya benar-benar asyik coklatnya seperti es krim dan kulitnya putih pualam, kalah pokoknya pembicara pertama. Prof. Yakoob bergaya bahasa yang lugas, tidak bernas, to de poin, tidak alang-alang, tidak pake konotasi, pokok pembicaraan langsung kena sasaran tanpa ada yang bisa lari … saya suka gaya bicara seperti ini, makanya tidak mengantuk saat dipaparkan. Beliau membicarakan munculnya budaya kerja dan memunculkan budaya tersebut. Apalagi ada serempetan kalimat, “saya miris jika ada orang indonesia bilang Malaysia sebagai Malingsia !” apa sih bedanya budaya Indonesia dengan budaya Malaysia ?” … itu sepintas kata yang sempat saya dengar sebelum saya jatuh mengantuk lagi😆

Yang jelas prof, kalo bicara begini di depan para tun-tun dan puan-puan cik gu masih bisa diterima, tapi kalo bicara di depan masyarakat banyak khalayak ramai, oh jangan harap bisa pulang ke utara kalo belom bonyok duluan :mrgreen: … tapi syukurlah orang-orang di Kalimantan, apalagi kalimantan selatan tu baik-baik, ramah-ramah, rajin-rajin, dan suka menabung (loh … apa hubungannya :))

Pembicara terakhir adalah Prof. Ishak Bin Sin, PhD … dengan gaya bahasa yang santai dan lugas, sebenarnya Beliau berusaha melucu dan membawa audiens dalam humor tapi karena kendala bahasa dan pengunjung yang suka riuh rendah dan foto-foto sendiri akhirnya tertawa peserta bertambah garing …
Materi yang disampaikan prof. Ishak adalah kepemimpinan sebagai asal usul perubahan karakter perubahan budaya, siapakah itu pemimpin …. menurut sebagian besar khalayak adalah diri kita sendiri, tetapi karena yang dibicarakan adalah budaya kerja so pasti haw le itu pastik Pemimpin oganisasi, pemimpin sekolah, pemimpin masyarakat, pemimpin orang-orang, pejabat publik, bupati, walikota, gubernur, tokoh masyarakat, anggota DPR, Menteri sampai Presiden sampai Ketua MPR/DPR/DPD … dan lain yang bertugas memimpin masyarakat😀

Sesi terus berlanjut sampai semua pembicara menyampaikan uneg-unegnya dihadapan sekitar 500 peserta yang memenuhi ruang aula rektorat UnLam. Dan seperti biasa, pembicara tamu ditutup oleh Prof. Yakoob yang sedari awal memperhatikan kebosanan para peserta dengan hanya mengucapkan sepuluh patah kata … saja yang kemudian seminar ditutup dengan pembagian kotak nasi😆 …

itulah rasanya seminar antarbangsa alias seminar internasional … lumayan untuk ukuran kami dari kampoong
Beberapa bonus gambar :

Kami tunggu seminar atau konferensi internasional berikutnya !

Seminar Internasional

Satu pemikiran pada “Seminar Internasional

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s