Kepulangan Menuju Palangka Raya

Setelah mengikuti event e-learning award 2008 di Jakarta, setelah sebelumnya menginap di kediaman Motivator Blogger SMKN-3 Jakarta yang juga nominator, akhirnya Helge dan Guru Fisika

Harus berpisah untuk kembali tempat bertugas masing-masing tepat pukul 06.30 wib, kami diantar menuju perhentian masing-masing, Helge diantar di depan LP Cipinang yang kemudian melanjutkan ke Stasiun Jatinegara menuju Yogyakarta, dan Guru Fisika diantar menuju terminal Rawamangun untuk menumpang Bis Bandara.

Di tengah perjalanan, tanpa memikirkan sebuah kesempatan untuk mengosongkan kantung empedu Sang Guru, terjadilah sebuah ketakutan yang pernah dialami pada saat kunjungan ke daerah Betawi di tahun 2001 lalu, yaitu peristiwa ditinggal bis karena kantung empedu yang kepenuhan akan air yang harus segera dikosongkan melalui pembuangan sederhana yang dinamai dengan proses pengeluaran urinisasi. Mengingat peristiwa memalukan tersebut yang berbuah gagalnya kunjungan menuju tempat pelatihan, membuat Guru Fisika berpikir keras apa cara yang harus dilakukan ?

Meminta driver untuk berhenti tidak mungkin, karena banyak penumpang lain yang memiliki kepentingan sejenis menuju daerah sekitar Bandara Soekarno Hatta untuk bekerja atau mengejar penerbangan pagi. Semakin bingunglah benak Sang Guru dengan mempertimbangkan hal-hal itu. Sempat terlintas, menghina diri sendiri dan menyalahkan diri sendiri mengapa tidak melakukan hal sepele itu di urinoir kamar mandi di Motivator Blogger SMKN-3 tadi, dan juga seandainya terlupakan, Sang Guru masih menyalahkan dirinya, mengapa tidak melakukan prosesi ritual pengosongan kantung empedu ini di toilet Terminal Rawamangun. Atau juga mengapa tidak mengenakan jaket tebal untuk meningkatkan suhu tubuh sekaligus mengurangi kuantitas pengurangan penyerapan air yang tidak mengalami peningkatan suhu tubuh karena kondisi kendaraan yang ber-AC.

Benar-benar buntu dan putus asa lah yang dialami Sang Guru, berusaha menahan peningkatan tekanan di bawah perut pun bukan usaha yang meniadakan, namun meningkatkan entitas tekanan air empedu, mencoba mempertahankan untuk tidak muncrat pun sepertinya sulit karena penyakit sosial bangsa Indonesia, yaitu M-A-L-U, akhirnya Sang Guru berpasrah diri dengan menenggelamkan dalam ritual mendengar alunan musik yang diputar dari media player ponselnya, upaya ini juga tidak berhasil, malah semakin membuat kepanikan dan menambah ketidak berdayaan pertahanan di kantung empedu untuk segera harus dikosongkan dan bladder sudah teriak-teriak minta ampun tidak akan tahan menanggung jebolnya tanggul. Ditimpali dengan kondisi lalu lintas di depan universitas yang berada di kawasan Rawamangun sedang padat-padatnya menyebabkan laju kendaraan seperti laju lari seekor semut menambah kepanikan dan ketakutan Sang Guru akan sebuah musibah yang sewaktu-waktu bisa terjadi dan pasti memalukan.

Sebuah tindakan kemudian diambil Sang Guru dengan bertepekur dan memasrahkan diri, serta merta earpiece dan ponsel musik direnggut paksa dan dibuang ke dalam tas kantor formil. Didiamkan, prosesi pendiaman diri untuk mencapai konsentrasi tahap tinggi membayangkan kehadirat Yang Maha Suci pun terjadi sedikit-sedikit dengan suara kecil kalimat doa dipanjatkan dibarengi nyanyian puji-pujian kepada Yang Maha Sempurna dikumandangkan dan dinaikkan syafaat ke udara walaupun dengan suara kecil yang terbata-bata. Perlahan-lahan dengan pasti, muncul kegerakan dalam tubuh Sang Guru, setiap kali ada usaha perlawanan terhadap keinginan kantung empedu semakin besar pula kekuatan air empedu untuk bergolak meledak-ledak seperti auman gelombang menderu menghantam karang terjal, namun sebaliknya di saat kepasrahan itu dilakoni yang terjadi adalah tekanan bladder menjadi semakin berkurang. Nah inilah dia, sebuah upaya sejati dan meningkatkan kemapanan diri, bahwa keinginan alam jangan dilawan melainkan harus diikuti kemauannya, dengan kepasrahan akan ketakutan, kengerian, terutama takut malu karena berada di tengah publik dilepaskan dan diikhlaskan terjadilah keajaiban itu.

Perlahan dan pasti Bis Bandara mulai melaju kencang dan akhirnya bisa berlari di atas jalan Tol menuju Bandara dan secara reflek Sang Guru merekam keadaan jalan Tol dengan kamera video yang selalu tersedia di dalam tas kerjanya, juga mengurangi efek akan tekanan bladder untuk segera dikosongkan. Dan akhirnya selama perjalanan menuju Bandara itu, keinginan dari jasmani Sang Guru untuk mengeluarkan urine tidak terjadi dan bisa ditahan secara ajaib – ajaib sebab tidak ada kekuataan tubuh yang diatur dan dilatih untuk itu namun terjadi DENGAN SENDIRINYA, yaitu dengan mengalihkan pikiran untuk menyibukkan tubuh supaya prosesi ritual pengosongan urine tidak berlangsung dominan sebab ada kegiatan lain yang lebih mengasyikkan dan menyebabkan suhu tubuh meningkat.

Hingga tiba di depan terminal B1 Soekarno-Hatta, Sang Guru melaporkan keberangkatannya menggunakan kendaraan udara Sriwijaya menuju Kota tujuan yaitu palangkaraya tanpa bersusah payah melayani keinginan jasmani si bladder tadi itu. Hingga saat pikiran Sang Guru diarahkan bahwa akan melewati toilet, barulah si bladder mulai mengingatkan untuk segera dilakukan proses ritual pengosongan kantung empedu. Dan proses itu berjalan pada tempatnya, tanpa menyalahi pakem dan terutama dalam keadaan tidak mempermalukan raga Sang Guru di tengah orang banyak.

Hanya selama saja selama Sang Guru melaporkan keberangkatannya dari awal dan setelah menurunkan barang di kabin harus adu mata dengan seorang Bapak Berkacamata dan seorang Ibu gemuk berkerudung yang entah apa maksudnya melemparkan pandangan tidak sedang, dan amarah yang meluap dan kesal kepada Sang Guru yang tampak bloon dan lugu.

Namun Sang Guru tidak mau ambil pusing, silakan saja jika mau coba-coba Sang Guru pun tak akan mundur setapak pun jika kedaulatannya diinjak-injak tanpa sebab dan akibat, hanya karena ada kepentingan orang lain yang tidak memperhatikan martabat manusiawi.

Dari ini semua, inilah puncak catatan perjalanan Sang Guru selama berkelana di Jakarta memenuhi undangan sebuah institusi yang terhormat dan memiliki kaitan dengan berkembangnya blog penulisan ini.

Apakah anda sudah mengosongkan isi bladder anda pagi ini ? Apakah bladder anda sudah dikosongkan sebelum anda tidur ? Siapkan Anda menghadapi tantangan hari ini ?



Kepulangan Menuju Palangka Raya