MAYAPADA YANG TENTERAM

Setelah Bapanda Petruk mengguncangkan dunia Kayangan yang lalu dirumorkan bahwa Bapanda Petruk ingin menjadi Raja sehingga mengalahkan Batara Guru. Pada akhirnya Bapanda Petruk kalah hanya oleh gelitikan kecil Sang Hyang Ismaya, dan akhirnya Bapanda Petruk kembali menghaturkan sembah ampun kepada Batara Guru dan kembali menjadi cantrik kepada Sang Hyang Ismaya alias Bapanda Semar di Karang Tumaritis.

Sepenggal cerita wayang di atas yang merupakan bacaan kegemaran saya waktu kecil segera terlintas, setelah kejadian akan tulisan berikut, yang jika disimak baik-baik memang berdampak buruk selain bagi saya pribadi sebagai salah satu elemen di institusi ini dan juga bagi rekan-rekan sekerja. Ada pro dan kontra yang muncul, dan memang itu yang saya harapkan sebagai bentuk respon dan juga sebagai bukti bahwa Blog ini menjadi fenomenal dan dikenal seantero dunia global.

Beranalogi akan cerita Petruk Ingin Menjadi Raja, saya mengaca diri sendiri bahwa saya belum lah lagi pantas menduduki singgasana apalagi menjadi singa. Namun pelajaran ini sangat berharga dan sangat membuat tekad saya membulat untuk membuatkan seluruh isi tulisan kontroversi dari blog ini menjadi sebuah memori yang tak lekang dimakan zaman.

Saatnya tiba jika semua itu menjadi kehendak Yang Maha Kuasa, semua tulisan Bapanda Guru akan menjadi sebuah Buku yang bisa masuk ke dalam saku dan bisa dibaca setiap waktu di manapun anda menuntut ilmu dan berguru.

Semoga ketenangan ini membekas dan berada di Mayapada Smada tercinta, agar tetap menjadi kayangan dan tetap menjadi lahan penghidupan orang banyak demi kemaslahatan umat.

Damai Negeriku Damai SMADA- (ku)

MAYAPADA YANG TENTERAM

5 pemikiran pada “MAYAPADA YANG TENTERAM

  1. septi9 berkata:

    padahal cerita yang kaya begitu waktu saya kecil pada banyak peminatnya

    ko sekarang pada gak peduli lagi????
    kan cerita yang kaya begitu juga asyik jadi selingan pelajaran…

  2. banyak pro kontra yang menjadi warna kehidupan di bumi ini, ada baiknya kita jangan memaksakan diri dan mungundurkan diri tetapi ada baiknya berjalan seperti air mengalir ya tetap terarah pada jalan yang benar, sehingga tidak adanya keraguan dan kegelisahan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s