Knowledge Economy

Asing banget ya. Padahal arti harafiahnya sederhana yaitu pendidikan atau pengetahuan yang akan menghasilkan nilai ekonomis. Ujung-ujungnya adalah nilai ekonomis dari ide kreatif, pengetahuan kreatif seseorang, beberapa orang, sekumpulan orang, tim, grup, kelompok yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan.

Pengetahuan yang menciptakan nilai ekonomis, sebenarnya tidak hanya kreativitas yang kadang nyeleneh atau absurd yang kemudian menyentuh kelompok tertentu, masyarakat tertentu dan kemudian mereka menyenangi hal ini kemudian mempopulerkannya hingga akhirnya memiliki nilai jual. Hmmmm :mikir:

Industri yang berawal dari pengetahuan atau kesederhanaan pola pikir antara lain, dengan ramenya anak-anak, pelajar nge-band, coba-coba ngamen, eh ternyata lagu ciptaannya asyik kebetulan ada produser yang ndengerin atau keterusan karena iramanya gamblang dan market oriented, termasuk berbagai macam banyolan lewat tutur kata, rap, chat, sampe percakapan telepon ayin-yahya semuanya secara kreatif dijadikan ringtone halah .

yup, simplified, kesederhanaan, itulah makna asal usul pengetahuan sekedarnya eh ternyata menghasilkan market dan bernilai ekonomis. Menghasilkan pasar banget, tumpah ruah, akibatnya orang-orang kreatif ini tidak peduli tua muda lanjut usia become new rich man-wealthy – kaya mendadak.

Secara global, orang-orang Indonesia sangat kreatif. Umumnya dari segi yang negatif, pembajakan software, pembajakan lagu, bajak-membajak sawah (eh apa iya ) juga merupakan maskot utama dunia mengenal negara kita๐Ÿ˜†โ“

Dalam pasar global, Indonesia sebenarnya memiliki posisi strategis dengan keadaan ini. Banyaknya turis manca negara juga turut meledakkan industri kreatif melalui penjualan langsung, komoditas souvenir, tourism yang secara tidak langsung mem-boom-kan kalangan muda yang penuh imaji, inovasi, fantasi, inspirasi untuk menghujani pasar dengan ide-ide mereka. Industri musik anak muda dimulai dari indie Band sudah mendapat tempat dan terus merambah menuju dunia global, lagu-lagunya semakin keren, musiknya semakin apik tidak asal jiplak dan tidak asal dimainkan, sudah demikian prof, ibarat kata Pengamen sekarang naik pamor dibuktikan dengan kekonyolan Kangen band, kemudian ST 12, lalu Pilot, d’massive, vagetoz, de el el.

berikan kesempatan strategis kepada orang-orang muda berimajinasi dan memproduksi khayalannya, berikan ruang publik yang dinamis dan kooperatif dimulai dari layanan sekolah dan keluarga, lingkungan masyarakat, pemerintah daerah, kembangkan industri rumahan dari anak-anak putus sekolah, anak-anak jalanan, karena dari ketidak berdayaan, dari ketidak mapanan, himpitan ekonomi, himpitan masalah, biasanya muncul ide-ide cemerlang nan brilyan kadang-kadang juga tepat untuk dipakai bahan tipuan๐Ÿ˜†

berdayakan anak-anak jalanan, jompo, orang tua, pengangguran tanpa menciptakan lapangan kerja padat karya bikin jalan, jembatan, sungai wow itu sudah bukan zamannya lagi. Banyak hal sederhana bisa dimulai, dengan membuka ide industri daur ulang yang ramah lingkungan, industri pertanian sederhana di tengah perkotaan menggunakan metode hidroponik, industri tanaman hias darurat, sekaligus mengurangi urban dengan pemberdayaan daerah pedesaan sebagai sentra industri kreatif jangan hanya di kota untuk pajangan dan ditaruh di Mall-Mall. Orang kampung mah mana ada sempat mikir ke situ, alasan market? Walah cuma kaum borju yang sempat, ABG cuma liat-liat doang, mana ada yang mau beli dan berpikir panjang untuk mengembang ?

Saya pikir Indonesian Youth tidak hanya orang-orang terpilih yang sudah terseleksi secara alamiah, yang well educated, fresh graduate, tetapi kaum marginal juga banyak anak-anak muda, young generation, Sudah saatnya kita bersama memikirkan kaum marginal yang notabene masih sangat belia untuk diberdayakan tidak hanya berhenti di rumah singgah, pengalaman-pengalaman di Kota Besar yang sering ditampilkan di televisi koq kurang mendapat respon dari penguasa. Nah, melalui blog ini … mari dong dong akh … ada pemikiran bersama kek untuk youth marginal itu. Melalui apa ?

sekali-sekali diadain konferensi internasional anak jalanan kah ? Nah Indonesia kan banyak tuh penduduknya, palagi bisa bekerja sama dengan berbagai media internasional. isu kemiskinan paling mudah digulirkan, bahkan banyak orang kaya sekarang mengaku miskin biar dapat BLT. Anak-anak miskin ini dikelola, dibangkitkan kreativitasnya dengan memberi “kail” masak anak bisa memancing ikan ? bukan “kail” atau pemicu adalah semangat keluar dari himpitan kemiskinan, ekonomi biaya tinggi, menghentikan mereka mengamen di jalan dengan memberi kesempatan bersekolah musik, misalnya. Belajar tampil mengisi panggung gembira, olah kesenian, atau preman-preman kapak merah dikumpulkan lalu dibina sebagai atlit mulai dari bela diri, memanah, panjat tebing, outbound, atletik (karena mereka berbadan atletis loh)

Pendidikan sekolah sudah bukan zamannya lagi, duduk diam di kelas. Namun memberikan kesempatan kepada semua warga negara mendapatkan hak pendidikan dan hak pengajaran melalui informasi terbuka, buku, rumah singgah, pendidikan luar sekolah, media massa, media cetak, sekolah terbuka, relawan pendidikan, di dalamnya sudah banyak konten-konten menarik tentang pendidikan yang akan memicu rasa percaya diri dan memproduksi sesuatu yang memiliki nilai jual pada akhirnya.

Selama ini mengentaskan kemiskinan dengan subsidi barang, kemudian subsidi orang, kenapa tidak memulai dengan subsidi informasi dan kesempatan. Gagal, masih bisa diberikan kesempatan dengan pengawasan. Berdayakan sekolah mapan untuk membuat kurikulum khusus bagi anak-anak yang tidak bisa melanjutkan pendidikan, berdayakan relawan-relawan pendidikan untuk berinovasi dan berkreasi dengan bebas. Bangkitkan sineas-sineas muda dengan potret buram sosial perkotaan (ataukah juga pedesaan? )

masih bersambung …. !

Knowledge Economy

3 pemikiran pada “Knowledge Economy

  1. Selamat!! main ke blog gue berarti Anda telah menyumbangkan ke-gantengan anda untuk saya!!! huahuhahuahua!!!

    semoga ente ketularan ganteng deh… hehehe

    ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s