Minggu-perjuangan

Tanggal 23 september 2007 merupakan tonggak sejarah baru,
kali ini semangat baru membara dengan mulainya perjanjian sewa baru atas properti yang orang tua wariskan kepada kami untuk dikelola
walaupun tidak terlalu besar Rp 8 juta/ tahun dan masih harus ditanggung dengan memasangkan jaringan listrik serta jaringan telepon (untung jaringan yang ini sudah saya pesankan dengan membayar 177 ribu saat promo telepon kabel lewat komplek Puri Ditha) ya akhirnya paling bersih dapat sekitar 4 juta-an itupun masih harus disumbangkan ke orangtua yang masih berharap banyak melalui persewaan propertinya.

Dan saya juga bersyukur karena developer PT Tirta Buana yang dikomandani teman SMA saya dulu saat di SMAN-3 Palangka Raya Mr. Yopi Permana juga berinisiatif membangun jalan tembus menuju komplek perumahan yang beliau bangun di Jalan George Obos No. 50 tepat di belakang ruko yang disewakan sebuah PH (Fantasi ya kalo nggak salah namanya, dengan investasi 150 juta untuk merehab dua unit ruko di depan rumah …weleh weleh weleh), sehingga kami sekeluarga kalo naik kereta soluna tidak lagi kempat-kempot hati melewati halaman ruko orang lain.

Semua tidak diduga, akhirnya penungguan juga sampai. Sementara kontak dengan sodara yang tidak tahu diri betul-betul putus dan tidak bisa diajak berbaikan dengan akal sehat. Wah benar-benar kombinasi kerumitan masalah yang benar-benar memusingkan. Belum lagi memberesi halaman pekarangan yang sekarang dihiasi macam-macam pernik bawaan anjing-anjing peliharaan dan anak-anak manusia yang saya bina.
Minggu yang lalu adalah Hari Yang Mulia, karena saya menduga kami berdua maminya anak-anak akan aktif di lembaga religius di lingkungan kami, namun karena belum ada pendekatan sosial sepenuhnya akhirnya keinginan tersebut harus dipendam dan digantikan dengan pergelutan sosial dengan saudara sendiri yang menuntut hak warisan tanpa pernah mengerti mengapa dirinya menjadi demikian. (Bagi anda yang nasrani, pengalaman cerita perjanjian baru tentang Anak sulung dan Anak Bungsu benar-benar terjadi apa adanya sebagaimana alkitab menuliskannya pada diri pribadi saya saat ini). Itulah akibatnya didikan orang tua yang sangat memanjakan anak bungsu berakar kuat dan hebat membentuk karakter anak bungsu sebagai pribadi yang tidak tahu diri, tidak tahu akan kesusahan orang tua, hanya mencari perhatian dan menuntut haknya tanpa memperdulikan asasi orang lain, mau menang sendiri sudah pasti. Karena saya seorang guru, dan berkali-kali terlibat dengan akar permasalahan pembentukan mental kepribadian putra-putri di SMAN-2 Palangka Raya sekarang menjadi SMAN-2 Pahandut, maka saya harus terapkan hal ini sebenar-benarnya. Mendudukan proporsi pemikiran yang wajar, Belum lagi ditambah dengan kelakuan suaminya yang membuat orang lain menggelengkan kepala, menyebut dirinya orang berada tapi kalo ditanya apa pekerjaan/ di mana rumahnya / sekarang ngapain ? Jawabannya hanya dengan senyum misterius (karena tidak ada kepastian apa yang bisa dijawab) semua jawaban bohong melulu. Kerjanya setiap hari tidur saja, makan cuman makan mie instan / setiap hari ini dilakukan. Selama 10 tahun berkeluarga, sodara yang satu ini hidup dalam dusta dan kebohongan ditambah lagi dengan pemaksaan kehendak terhadap orang tua… benar-benar pendosa yang hidup di antara tetangga dan gereja. Dua kali ngakunya kerasukan setan dan sudah dilepaskan, eh ternyata setannya malah menjadi-jadi menjadi Setan Yang Hidup di antara Manusia lo…. sampai sekarang malah dicap “sakit jiwa”.

Saya mengalami ketidakberdayaan yang sangat, di satu sisi adalah sodara kandung tetapi di sisi yang lain, sodara ini malah ingin menguasai harta orang tua dengan motivasi dari suami yang pemalas dan jahat dengan merencanakan hal yang buruk. Kamus saya mengatakan …. kebohongan publik…. dan kejahatan terencana. Selama 5 tahun sebelumnya, sewaan properti yang dimiliki orang tua semestinya menghasilkan Rp 6,5 juta x 5 x 2 unit tidak pernah kesampaian. Sampai kemarin, Ibu saya hanya mendapatkan 2 juta dari haknya yang sebenarnya. Benar-benar situasi yang memilukan, saya pun berada dalam jurang ketidak berdayaan sebab ada perkataan Beliau yang membuat saya trenyuh , ” Seandainya nyawaku pun diminta olehnya (sodara perempuan yang sinting ini), akan kuberikan saat itu juga!”. Nah apa tidak keder mendengar kalimat itu ?

Dalam ketidakberdayaan ini, minggu ini pun menjadi suram. Tapi apakah akan terus sesuram dan seseram itu? Menurut audio motivasi yang saya dengar, Feel it Keep It …. penderitaanmu, kesedihanmu. Jadikan emosi itu untuk bangkit, berdiri, berusaha. Mengapa saya harus mengerjakan hal ini (usaha) kalo tidak melakukan kesedihan itulah yang menghantam saya….. itu kata-kata TDW setiap kali saya menangis mengingat hal ini. Benar-benar titik nol- turning point – yang selama ini saya cari-cari ada di depan mata.

Ada baiknya juga – siapapun anda yang membaca part of this story, ingat bahwa memiliki anak yang jumlahnya dua orang saja harus benar-benar dididik agar bisa share dan jangan membela satu atas yang lain – karena akan menimbulkan arogansi terhadap pihak tertentu. Jangan dibiasakan memberikan hal yang berlebihan kepada salah seorang anak – jadilah adil, karena itu akan merefleksi dalam kedewasaannya kelak.

Banyak sekali daftar dosa sodara miskin saya yang sinting ini, ditambah keadaannya yang miskin baru saja disayat perutnya untuk mengeluarkan kandungan myoma akibat penebalan dinding rahim yang disebutnya memakan biaya 25 juta rupiah. Hmmm….. entah apa yang dibayar dengan sejumlah itu. Tanpa memikirkan, besok kami yang gelandangan tidak punya tempat tinggal ini akan menetap di mana? Pekerjaan tidak punya, uang warisan sisa 20-an juta ditambah ruko butut yang main cabut listrik dengan sewa 7,5 juta/tahun itu hanya satu. Itulah yang membuat ketidakwarasan ini semakin menjadi dan mengakar kuat, apa-nya yang bisa diharap dengan kondisi separah itu? Hidup mewah ? Hidup sehat ? Hidup wajar ? Umur kita sangat singkat, hidup kita bagai rumput kering di atas pasir yang setiap saat bisa diterbangkan angin tanpa akar kuat ….. halah halah halah …. eneg rasanya ngomongin orang gila ini.

But anyway sebagai pengisi momentum refleksi melalui pengalamanqu dan pelajaran berharga, JANGANLAH SAUDARA ABAIKAN HARDIKAN ORANG TUA, KARENA SESUNGGUHNYA HARDIKAN ITU ADALAH KASIH YANG SEJATI, YANG MENGINGINKAN ORANG KESAYANGANNYA TIDAK JATUH BINASA MELAINKAN BEROLEH KESELAMATAN AKAN HIDUPNYA DI DUNIA DAN AKHIRAT ….

ps : sampai hari ini saya tidak melakukan tindakan apapun untuk berdamai karena saya inginkan sebuah pelajaran berharga, bahkan antara rumah saya dan rumah orang tua sudah saya pesankan pagar bertutup plastik agar menjadi batas nyata antara hidup si miskin dan hidup si …. apanya?

Pelajaran bagi saudara yang jumlah saudaranya hanya berdua bertiga, jangan sampai terjadi hal yang serupa kepada ANDA. Cukup Rudy Hilkya saja yang merasakannya…….

Minggu-perjuangan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s